Unforgettable moments: Cultural exchange with AMICIF

Di pertengahan tahun yang belum lama ini ada teman-teman kita yaitu Bhirawa, Qurrota, Qisti dan Nasya berangkat ke Prancis loh, kurang lebih satu bulan mereka berkegiatan disana mengikuti program dari Amicif (Amicale des Centres Internationaux Francophones) dan di artikel ini mereka akan cerita ngapain aja, simak yuk wawancara dengan 4 teman kita ini…

image_9eb17fc

Menurut kak Bhirawa selama di Prancis, tidak banyak kesulitan yang dialaminya, hanya ketika di Prancis sulit untuk mencari makanan yang Halal dan rata-rata makanan disana hambar. Karena kak Bhirawa masuk ke centre CIFAQ (Centre Internationaux Francophone Aquitane), jadi selama berkegiatan disana banyak sekali mengunjungi tempat bersejarah, dan mengenal budaya dan sejarah negara Prancis terutama di daerah barat lautnya seperti Bordeaux, Pays Basque, dan Toulouse.
“Ditambah peserta yang tergabung berasal dari 23 negara yang berbeda, jadi otomatis selain kebudayaan Prancis saya juga belajar banyak hal dari peserta lain. Bener bener pengalaman baru dan tak terlupakan buat saya.” Tambahnya.
Ada pesan juga nih dari kak Bhirawa, “Jangan takut untuk parler français karena kalau cuma apal grammaire tanpa praktek sama aja bohong soalnya kita selama program banyak salah ngomong tapi asik-asik aja dan malah ga peduli sama grammaire. Intinya berani ngomong.”

image_fb1e6e2

Nah, kalo tadi ada kak Bhirawa dari centre CIFAQ, sekarang ada kak Qurrota yang ikut centre CIFC (Centre Internationaux Francophone Culturelle). Ia bercerita awal mula tertarik mengikuti program Amicif ini karena melihat temannya yang yang ikut program tersebut. “Terus mendengar pengalaman mereka disana kayaknya bisa ningkatin potensi diri. Terus udah punya niat juga sebelum lulus, harus ke Prancis dulu, entah ikut program apa.” Tambahnya.
Selama disana tentu saja disana kak Qurrota ini melakukan banyak kegiatan, antara lain mengunjungi beberapa tempat diparis, lalu ke Bretagne, dan Saint Mont Michelle. Bersama kontingen lainnya juga membuat pertunjukan, presentasi memperkenalkan Indonesia dan makanan khas Indonesia. Hal yang paling tidak bisa ia dilupakan selama disana yaitu ketika mempresentasikan negara-negara Asia bersama kontingen lainnya para audience memberikan standing ovation dan makanan Indonesia banyak dipuji oleh masyarakat sana.
Menurut Qurrota, kesulitan selama berada disana yaitu budaya yang berbeda sama kebanyakan orang disana, diminggu awal bahasa masih menjadi hambatan. Tapi positifnya jadi termotivasi untuk meningkatkan bahasa, potensinya, dan menerapkan kebiasaan positifnya orang Eropa ketika balik ke Indonesia.
Ada pesan juga dari kak Qurrota “Semangat aja jalanin perkuliahan di sastra prancis, banyak banyak ikutin kegiatan yang bisa ningkatin potensi diri. Jangan takut untuk ambil langkah besar buat mencapai apa yang kita inginkan.”

image_c8b3483

Selanjutnya ada Nasya yang akan menceritakan pengalamannya juga, sama seperti kak Qurrota yang berada di centre CIFC. “Karena tema program tahun ini tentang stereotip, jadi ada seminar tentang stereotip antara pria dan wanita, tentang liberté, tentang pembuatan champagne. Terus ada juga cara membuat komik, melukis di kanvas. Yang seru sih jadi kan kita ada presentasi benua, nah disitu kita diharuskan berpendapat dan berdebat sama org lain pake bahasa Prancis, agak susah sih emang… Terus kita juga harus bikin sebuah spectacle, dan itu kita2 juga yg tampil. Terus ada juga kelas teater, musik, sama littérature.” Jawab Nasya ketika ditanya tentang kegiatannya disana.
“Senin sampai Jumat pagi kita tinggal di asrama, Jumat siang sampai Minggu pagi tinggal di rumah keluarga. Nah dirumah keluarga tuh kita ngobrol-ngobrol, ngerasain makanan khas Prancis atau makanan khas kota mereka, nyobain wine dan champagne khas kota mereka, terus cerita-cerita tentang kebudayaan mereka dan kebudayaan kita.” Lanjutnya. Pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan Nasya itu ketika spectacle. “Itu kayak kita udah bener2 cape tapi kita harus nampil, tapi habis spectacle selesai itu kita malah nangis-nangis karena kita harus pisah dan gak tau kapan lagi bisa ketemu, secara beda negara semua.”

image_50606b1

Yang terakhir ada kak Qisti. Berada di centre yang sama dengan kak Bhirawa tadi, CIFAQ. Ia bercerita kegiatannya selama disana yaitu mengunjungi museum-museum yg ada di Acquitaine, juga ke Chateaux Medieval. Ke tempat-tempat bersejarah dan memiliki influence. Selain itu juga mempresentasikan negara Indonesia, melalui tarian, cuisine du monde, dll.
“Yang jelas di sana kita améliorer notre français, karena kita sehari-hari ngobrol pakai bahasa Prancis dengan orang-orang dari hampir seluruh dunia. Ada 27 nationalité di CIFAQ kalau tidak salah. Selain itu juga kita belajar banget budaya Prancis sampai hal terkecil. Belajar saling menghargai keyakinan dan perbedaan budaya juga.” Jawab kak Qisti ketika ditanya tentang pelajaran apa saja yang di dapat selama disana.
Kesulitan yang ia alami ketika di Prancis yaitu culture shock, sulit beradaptasi dengan cuaca, makanan, dan lainnya. Juga karena ia memakai jilbab, memang sedikit terasa berbeda, banyak sekali pertanyaan yang datang seperti kenapa ia memakai jilbab, apakah tidak merasa kepanasan atau terkekang, dan lainnya.
Pesan dari kak Qisti “Kesuksesan itu gak diliat dari kamu berhasil ke Prancis atau nggak. Kalau emang kamu punya tujuan untuk apa ke sana, silakan semangat berjuang untuk ke sana. Kalau kamu punya mimpi lain, tetap harus semangat juga. Karena kalau kita bener-bener mau, maka tinggal meminta dan berusaha, maka semesta akan mewujudkannya.”

Nah gimana temen-temen yang lain siap nggak kalau berangkat ke Prancis? Harus dong ya! Semoga pengalaman kakak kakak di Prancis bisa inspirasi bagi kita untuk lebih semangat lagi di perkuliahan ini ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *