Sejarah Jatinangor

Sekilas tentang Sejarah Jatinangor

Jatinangor daerah tempatku tinggal ini dulunya adalah bekas perkebunan dibawah perusahaan bernama Cultuur Ondernemingen van Maatschappij Baud yang berdiri tahun 1841. Milik seorang tuan tanah bernama W.A. Baud atau lebih terkenal di masyarakat dengan sebutan Baron Baud. Ia sebetulnya berasal dari Jerman. Perusahaan ini memiliki beberapa perkebunan selain Jatinangor yaitu di Ciumbuleuit, Cikasungka Bandung, Pamegatan Garut, Jasinga dan Buitenzorg atau Bogor. Pada awalnya tanaman yang dibudidayakan di jatinangor adalah tanaman Teh akan tetapi kemudian diganti dengan tanaman Karet. Khusus untuk nama Jatinangor, nama itu baru diberikan pada perkebunan tersebut saat dibuka, nama itu diambil berdasarkan tanaman sejenis rumput yang banyak tumbuh di daerah tersebut. Tanaman sejenis rumput itu memiliki nama latin Alternanthera amoena. Pada awalnya daerah itu bernama Cikeruh yang termasuk dalam distrik Tanjungsari. Sedangkan nama Jatinangor adalah nama perkebunan milik Baron Baud tersebut.
Baron Baud tidak memiliki anak dari istrinya yg sah akan tetapi memiliki anak dari seorang Nyai. Nama anaknya adalah Mimosa. Mimosa kemudian menjadi pewaris tunggal perkebunan Jatinangor tersebut. Mimosa menikah dengan seorang Denmark bernama Baron von Klitzing yang kemudian ikut memimpin perkebunan Jatinangor bersama Mimosa istrinya. Di Jatinangor terdapat Loji (Kantor dan gudang) untuk mengurusi hasil hasil perkebunan Jatinangor. Sekarang menara di areal Loji tersebut masih berdiri. Menara Loji tersebut dulu berfungsi sebagai lonceng untuk memberi tanda (misalnya tanda mulai bekerja  pada pukul 05.00 pagi, tanda mengambil mangkuk untu karet pukul 10.00 dan tanda usai bekerja pukul 14.00) bagi para pekerja di perkebunan tersebut. Sekarang menara Loji tersebut masih berdiri di Jatinangor menjadi saksi bisu sejarah daerah Jatinangor. Makam Baud dan Mimosa terletak di dekat Loji tersebut. Saat saya masih kuliah sekitar 1990-an, makam tersebut masih ada di dekat menara Loji dengan arsitektur gothic itu. Sekarang di bekas Loji tersebut dibangun taman yang diberi nama Taman Loji. Taman Loji ini menjadi taman penghias wilayah Jatinangor sekarang.

Dalam sejarah daerah Jatinangor diceritakan bahwa Baron Baud seorang tuan tanah pemilik Cultuur Ondernemingen van Maatschappij Baud di Jatinangor, tidak memiliki seorang anak dari istri sahnya (perempuan dari Eropa). Oleh karena itu ia berselingkuh dengan perempuan pribumi yang usianya terpaut jauh puluhan tahun. Ia sering memanggil perempuan selingkuhannya dengan nama Nyai. Dari perselingkuhannya tersebut lahirlah seorang anak perempuan yang ia beri nama Mimosa. Akan tetapi kemudian kedua perempuan itu harus dipindahkan jauh ke Buitenzorg (Bogor). Disana di Buitenzorg Nyai tersebut dinikahi oleh seorang kusir delman dan hidup bahagia. Mimosa kecil lahir dan besar bersama ibu dan bapak tirinya di Buitenzorg. Suatu saat setelah istrinya meninggal Baron Baud didatangi saudara saudaranya dari Eropa. Rupanya telah terjadi perselisihan yang berujung pertengkaran antara Baron Baud dengan saudara saudaranya dari Eropa tersebut. Akibat dari pertengkaran tersebut Baron Baud baru memikirkan pewarisan tanah perkebunannya di Jatinangor. Oleh karena itu ia memutuskan untuk pergi ke Buitenzorg menemui seorang ahli hukum bernama Meertens. Bersama Meertens kemudian Baron Baud mencari Nyai dan anaknya yg bernama Mimosa. Terjadi pertemuan yang mengharukan antara Baron Baud dengan Nyai ibu Mimosa. Setelah ditemukan kemudian Mimosa diadopsi secara hukum agar jadi anak dari Baron Baud dan dibawa ke Jatinangor. Mimosa meronta-ronta menolak dibawa ke Jatinangor akan tetapi Nyai berusaha membujuknya. Setelah memasuki usia sekolah Mimosa kemudian disekolahkan di sekolah anak anak di Batavia. Atas saran Gubernur Jendral kala itu maka Mimosa kecil diasuh dibawah perwalian Horra Siccema mantan anggota Raad van Indie. Mengapa bukan Baron Baud yang menjadi wali dari Mimosa ketika ia masuk sekolah ? hal ini terjadi karena Baron Baud sudah meninggal saat Mimosa masih kecil sebelum Mimosa memasuki usia sekolah. Beberapa tahun setelah Mimosa bersekolah di Batavia kemudian Mimosa dikirim ke Belanda untuk meneruskan sekolahnya. Saat itu ia bisa kuliah di Belanda karena telah menjadi kaya raya akibat harta warisan dari Baron Baud berupa perkebunan Jatinangor. Di Eropa ia bertemu dengan Baron von Klitzing yang kemudian menjadi suaminya. Setelah mereka menikah kemudian mereka kembali ke Jatinangor dari Eropa untuk mengurusi perkebunan mereka di Jatinangor distrik Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Makam ayahnya yaitu Baron Baud yang terletak di dekat Loji perkebunan Jatinangor ia rawat sedemikian rupa. Bahkan Mimosa ingin dimakamkan disamping makam ayahnya tersebut ketika meninggal nanti. Mimosa memang kemudian telah menjelma dari anak seorang Nyai dan kusir delman menjadi pengusaha perkebunan Jatinangor. Ia memiliki keluarga bahagia dan kaya raya. Ketika ia meninggal menjelang perang dunia dua terjadi tahun 1939, sesuai wasiatnya Mimosa kemudian dimakamkan di dekat makam ayahnya yaitu di dekat Loji perkebunan Jatinangor. Anak anak Mimosa melarikan diri ke Australia ketika Jepang menyerbu Pulau Jawa. Perkebunan Jatinangor diambil alih Pemerintah Pendudukan Jepang dan kemudian diambil alih oleh Pemda Jawa Barat ketika Indonesia merdeka. Memasuki tahun 1950-an perkebunan ini dinasionalisasi dan menjadi milik pemerintah daerah Sumedang. Pada tahun 1980 lonceng di menara Loji hilang dicuri orang dan hingga sekarang tidak ditemukan.
Perkebunan Jatinangor sekarang telah berubah menjadi wilayah Unpad, Ikopin, IPDN dan ITB (dulu Universitas Winaya Mukti), tetapi taman Loji tetap dipertahankan sebagai saksi bisu sejarah Jatinangor.

Penulis: Dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.
Sumber: http://widyonugrahanto73.blogspot.com/2014/04/sekilas-tentang-sejarah-jatinangor.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *